Berita :: Bappeda Prov. Sumsel

Monorel Bakal Dibuat Bertahap

Semangat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel melalui Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) untuk membangun kereta api jalur tunggal atau monorel, tampaknya mulai meredup. Sebab dalam perencanaan, proyek tersebut mulai memasuki tender pada 27 Januari 2015.

Namun dalam Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Sumsel, lelang proyek monorel sama sekali tak muncul. Terindikasi proyek tersebut molor. Gubernur Sumsel, Alex Noerdin membantah hal tersebut dan menegaskan rencana monorel tetap berlanjut.

"Tim khusus sudah dari tahun lalu, jadi tetap dilanjutkan," katanya kepada wartawan di Kantor Gubernur Sumsel Jalan Kapten A Rivai, Rabu (28/1/2014).

Untuk pembangunan proyek monorel yang dibagi dalam dua koridor itu diprediksi membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Apalagi sebelumnya, Alex pernah berujar jika semua proyek pembangunan yang kurang dari dua tahun akan ditunda.

"Ditarget dua tahun selesai karena ada test event Asian Games di bulan Juni 2017. Kita tidak ingin pembangunan menganggu kelancaran Asian Games. Tapi bukan berarti menunda proyek monorel. Cuma dibuat bertahap seperti membuat stasiun dulu," sebutnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Sumsel, Nasrun Umar belum dapat memberi keterangan terkait proyek monorel. Beberapa kali Sripo yang mencoba menghubungi nomor ponsel miliknya tetap tak berhasil mendapat keterangan, begitu juga dengan pesan singkat.

Tertundanya pembangunan monorel juga ditepis oleh Ruslan Bahri, Asisten II bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Pemprov Sumsel. Menurutnya, Gubernur telah menunjuk tim khusus untuk mempercepat rencana pembangunan.

"Menyangkut tehnis diketahui oleh tim khusus di Dishubkominfo Sumsel. Namun yang pasti monorel tetap berjalan. Apalagi pengusaha dari Malaysia terus menerus menjajaki Pemprov Sumsel dan menyatakan diri berminat untuk mengerjakan proyek tersebut," ucapnya.

Ruslan mengakui bila Gubernur menargetkan semua pembangunan fisik di Kota Palembang harus terselesaikan selama dua tahun ke depan demi Asian Games 2018. Namun bukan berarti menunda monorel dikerjakan. Menurut Ruslan, tenggat waktu itu tidak akan menyurutkan keinginan untuk membangun monorel.

"Kita berharap monorel bisa selesai selama dua tahun. Kaaupun tidak masih bisa karena banyak caranya. Kalau tidak selesai seluruhnya, kan bisa dibangun separuh. Mungkin satu koridor dulu. Tapi bukan berarti tidak dibangun sama sekali," terangnya.

Ruslan menerangkan perusahaan internasional asal Malaysia, SCOMI Group menyatakan minat untuk membangun monorel di Kota Palembang. Pihak SCOMI sudah bertemu dengan Gubernur Sumsel, Alex Noerdin di ruang kerjanya, Kamis (4/12).

"SCOMI Group sudah membangun dua monorel di dunia, yakni di Mumbai dan Rio de Jeneiro di Brazil. Jenis yang sudah mereka bangun adalah monorel generasi kedua. Jadi tidak diragukan lagi kemampuannya," kata Ruslan.

Ia mengatakan bila SCOMI siap mengeluarkan biaya hingga 550 juta dollar Amerika Serikat (USD) untuk monorel. "Mereka siap berinvestasi 20 juta dollar per meter. Dengan gerbong kereta yang dapat menampung hingga 100.000 penumpang. Bila dalam kurs Rp10 ribu, tarifnya bisa diprediksi sampai Rp20 ribu per orang. Tapi itu baru gambaran," ucapnya.

Pemprov Sumsel berencana membagi pembangunan monorel dalam dua koridor. Dalam koridor I, kereta akan melintasi bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II-Jalan Kolone H Burlian-Jalan Demang Lebar Daun-Jalan Angkatan 45-Jalan Kapten A Rivai-Jalan Jenderal Sudirman dan Masjid Agung. Untuk koridor II, kereta mulai dari Masjid Agung-Jakabaring Sport City. Akan ada 24 stasiun yang rencananya dibangun sepanjang Koridor I atau Koridor II.

Rencananya Pemprov Sumsel memberi hak pengembangan delapan stasiun atau Transit Oriented Development (TOD) untuk dikembangkan kepada SCOMI Group sebagai kompensasi. Total luas ke delapan stasiun itu mencapai 150.588 meter persegi untuk dibuat kios atau ruang iklan di bagian dalam, sedangkan bagian luar stasiun dapat diubah menjadi hotel, kantor atau lahan parkir yang dapat menguntungkan.

"Bahkan kita menawarkan lahan di Tanjung Api Api (TAA) bila mereka merasa membangun dan mengelola monorel kurang menguntungkan. Anggap sebagai kompensasi karena mereka bersedia berinvestasi," jelasnya.

Masih kata Ruslan, pihaknya berkoordinasi dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Palembang untuk memastikan jalur yang akan dibangun rel bebas hambatan, seperti utilitas berupa kabel telepon, gas atau listrik.

"Lahan sudah siap. Tidak ada yang dibebaskan, karena jalur rel berada di median jalan. Gubernur meminta secepatnya digelar tender, agar pembangunan selesai sebelum pelaksanaan Asian Games tahun 2015," ulasnya.

 

http://palembang.tribunnews.com

29 Januari 2015 08:41:05 WIB Seputar Sumsel

© 2017 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sumatera Selatan